Setelah kejadian 'penginterogasian' itu akhirnya gw tau kalau org yang selama ini gw anggap paling mengerti dan pendengar yang baik itu menganggap gw terkadang kurang rasional.
yah itulah gw, seperti yg lo bilang: kurang rasional!!
terus kenapa selama ini lo selalu iya2 aja? apa pengen jerumusin gw menjadi org yang sangat kurang rasional?!
Trus apa kabar dengan sikap dan pemikiran lo yang sering mengedepankan perasaan daripada logika itu??
Sudahlah..kita manusia yang punya kesalahan yang sama,di episode hidup yang berbeda.
Ingat2 kembali bagaimana perasaan kita saat itu..
Tapi ternyata lebih baik gw tutup mata skalian dan menganggap lo cuma angin lalu aja.
entah karena gw terlalu sensitif sama kritikan saat itu, tapi terdengar terlalu sakit buat gw..
yah mungkin kita lebih baik seperti sekarang. menutup kehidupan masing2, tidak peduli dan tidak merasa penting dihidup masing..
Ternyata lebih mudah merasa sakit karena kata2 lo daripada mempertahankan perasaan sayang untuk lo.
Ternyata seperti ini membuat kehidupan gw menjadi jauh lebih baik lagi..
Terimakasih untuk sepotong kata yg bisa menyadarkan gw, betapa selama ini gw salah menilai lo..
Welcome to my 'candy' world
July 13, 2013
July 8, 2013
kalau saja keadaan bisa lebih kooperatif..
Akhir taun lalu, gw memutuskan utk jadi full time mom untuk Shadia. Bukan tanpa pertimbangan dan cuma pengen ongkang2 kaki dirumah (secara ya gw ga bisa diem dan bercita2 jadi wanita karir :p), saat itu dan sampai saat ini gw benar2 ikhlas.
Waktu itu gw coba diskusi dengan suami dan orangtua tentang keputusan gw resign dan menjadi full time mom. Tapiii jujur aja saat itu gw menginginkan beberapa 'syarat' yang bisa lebih mensupport gw dan membuat gw perlahan2 betah menjadi full time mon.
Salah satunya, gw belum bisa ditinggal sendirian dirumah (hanya berdua dengan Shadia) karena gw merasa belum mampu untuk ngurus anak dan ngurus rumah diwaktu yang bersamaan.
Mama dan tentunya suami gw sangat setuju saat itu. Mereka jg sepakat sebisa mungkin mereka 'ada' saat salah 1 memang sedang ga bisa bantu gw.
Fisik gw juga yang jadi salah 1 alasan kenapa gw mengajukan syarat itu. Gw sangat sadar diri punya fisik yg lemah ( kalo kata orang sunda: ririwit :p ). Pingsan mendadak saat kecapean dan telat makan itu adalah sifat manja yang paling gw benci.
Gw cuma ga mau kalau,andaikan,jika,umpama suatu saat gw sedang berdua Shadia dan pingsan tiba2, lalu siapa yang akan teriak atau minta tolong?? mengharapkan anak batita untuk lapor tetangga/satpam??jelas ga mungkin!
Mungkin kedengaran sedikit lebay tapi itu sangat sering gw alami. minimal migrain yg amat sangat.
Pembantu jadi solusi lain dari suami dan mama. oke,gw sepakat. dan lagi2 gw makesure kalo pembantu memang sedang ga ada, tolong ada yang sedikit 'berkorban' untuk bantu gw dirumah. Gw pun sangat ingin mandiri dan hidup ideal menjadi full time mom yg bener2 full time mengurus anak sekaligus rumah. Tapi kembali lagi, semua itu butuh proses tang ga sebentar dan perlu 'dibantu'.
Kenyataannya, saat ini dan saat2 sebelum2nya, mereka (baca: suami dan mama) sering ga kooperatif dan konsisten dengan janji mereka.
Oke,satu2nya yang bisa menghibur gw adalah dengan berpikiran mereka juga punya kepentingan lain yg sangat2 penting dan ga bisa ditunda dan kalau ditunda akan fatal akibatnya. Dengan berpikir seperti itu, gw lumayan bisa pelan2 mengerti dan mencoba menjadi fully full time mom.
Tapi dibeberapa kejadian justru anak gw yang jadi korban! pernah suatu hari dia jatuh dari kasur dan terjun bebas sampai dia dan gw pun histeris. Sepele, saat itu gw tinggal 1 menit untuk ambil baju dilemari dan dia main dikasur. Gw memang lagi migrain berat saat itu dan ga ada 1 orang pun yang peduli atau bahkan sekedar ngasi waktu gw untuk makan!
Setelah itu ada beberapa kejadian yang menjadikan Shadia 'lagi2' menjadi korban!
Tentang solusi pembantu pun rasanya kurang membantu.karena sejak itu kok suami gw ogah2an juga bantuin untuk cari pembantu. ditambah pembantu yang gw punya sekarang berasa dibutuhin banget.Tiap bulan cuti, ga kira2 cutinya sampe 4-5 hari dlm sebulan!
Snewen?? pasti! ini bukan lagi tentabg curahan hati seorang full time mom atau bkn karena ketidakikhlasan atau penyesalan gw yang sudah memutuskan untuk menjadi full time mom. Tapi lebih baik benar2 memikirkan kesiapan saat memutuskan menjadi full time mom deh! bukan cuma berembuk atau komitmen dengan diri sendiri aja. tapi WAJIB juga disupport oleh lingkungan dan orang2 sekitar yang benar2 siap dan berkomitmen juga!
Sama seperti ngasih ASI untuk bayi (akan gw tulis di postingan selanjutnya), ngasih ASI itu idealnya memang wajib hukumnya. kalau para lelaki (baca: suami) diluaran sana yg masih berpikir bahwa ngasih asi sama mudahnya seperti bikinin susu formula untuk bayi, itu SALAH besar!
sesuatu yang ideal dan wajib hukumnya itu blm tentu bisa terlaksana dengan baik selama lingkungan kita ga kooperatif. kenapa gw bilang ga kooperatif?? ( kok kayaknya maksain banget ya biar kooperatif). Kooperatif itu suatu keharusan saat suatu kewajiban dapat terlaksana dengan baik.
Terlebih ini tentang anak. Anggaplah mendidik dan menjaga anak itu seperti diri kita yang sedang berada di medan perang. Dan anggaplah anak kita itu adalah diri kita sendiri. dan anggap juga kalau lingkungan itu seperti team kita yang tidak kooperatif.
Buat para ibu2 yang baru akan memutuskan sebagai full time mom, diharuskan memiliki kesiapan yang benar2 siap ya! bukan sekedar diri kita yabg siap tapi yakinkan dan mintalah komitmen pada orang2 terdekat yabg harus juga siap.
Waktu itu gw coba diskusi dengan suami dan orangtua tentang keputusan gw resign dan menjadi full time mom. Tapiii jujur aja saat itu gw menginginkan beberapa 'syarat' yang bisa lebih mensupport gw dan membuat gw perlahan2 betah menjadi full time mon.
Salah satunya, gw belum bisa ditinggal sendirian dirumah (hanya berdua dengan Shadia) karena gw merasa belum mampu untuk ngurus anak dan ngurus rumah diwaktu yang bersamaan.
Mama dan tentunya suami gw sangat setuju saat itu. Mereka jg sepakat sebisa mungkin mereka 'ada' saat salah 1 memang sedang ga bisa bantu gw.
Fisik gw juga yang jadi salah 1 alasan kenapa gw mengajukan syarat itu. Gw sangat sadar diri punya fisik yg lemah ( kalo kata orang sunda: ririwit :p ). Pingsan mendadak saat kecapean dan telat makan itu adalah sifat manja yang paling gw benci.
Gw cuma ga mau kalau,andaikan,jika,umpama suatu saat gw sedang berdua Shadia dan pingsan tiba2, lalu siapa yang akan teriak atau minta tolong?? mengharapkan anak batita untuk lapor tetangga/satpam??jelas ga mungkin!
Mungkin kedengaran sedikit lebay tapi itu sangat sering gw alami. minimal migrain yg amat sangat.
Pembantu jadi solusi lain dari suami dan mama. oke,gw sepakat. dan lagi2 gw makesure kalo pembantu memang sedang ga ada, tolong ada yang sedikit 'berkorban' untuk bantu gw dirumah. Gw pun sangat ingin mandiri dan hidup ideal menjadi full time mom yg bener2 full time mengurus anak sekaligus rumah. Tapi kembali lagi, semua itu butuh proses tang ga sebentar dan perlu 'dibantu'.
Kenyataannya, saat ini dan saat2 sebelum2nya, mereka (baca: suami dan mama) sering ga kooperatif dan konsisten dengan janji mereka.
Oke,satu2nya yang bisa menghibur gw adalah dengan berpikiran mereka juga punya kepentingan lain yg sangat2 penting dan ga bisa ditunda dan kalau ditunda akan fatal akibatnya. Dengan berpikir seperti itu, gw lumayan bisa pelan2 mengerti dan mencoba menjadi fully full time mom.
Tapi dibeberapa kejadian justru anak gw yang jadi korban! pernah suatu hari dia jatuh dari kasur dan terjun bebas sampai dia dan gw pun histeris. Sepele, saat itu gw tinggal 1 menit untuk ambil baju dilemari dan dia main dikasur. Gw memang lagi migrain berat saat itu dan ga ada 1 orang pun yang peduli atau bahkan sekedar ngasi waktu gw untuk makan!
Setelah itu ada beberapa kejadian yang menjadikan Shadia 'lagi2' menjadi korban!
Tentang solusi pembantu pun rasanya kurang membantu.karena sejak itu kok suami gw ogah2an juga bantuin untuk cari pembantu. ditambah pembantu yang gw punya sekarang berasa dibutuhin banget.Tiap bulan cuti, ga kira2 cutinya sampe 4-5 hari dlm sebulan!
Snewen?? pasti! ini bukan lagi tentabg curahan hati seorang full time mom atau bkn karena ketidakikhlasan atau penyesalan gw yang sudah memutuskan untuk menjadi full time mom. Tapi lebih baik benar2 memikirkan kesiapan saat memutuskan menjadi full time mom deh! bukan cuma berembuk atau komitmen dengan diri sendiri aja. tapi WAJIB juga disupport oleh lingkungan dan orang2 sekitar yang benar2 siap dan berkomitmen juga!
Sama seperti ngasih ASI untuk bayi (akan gw tulis di postingan selanjutnya), ngasih ASI itu idealnya memang wajib hukumnya. kalau para lelaki (baca: suami) diluaran sana yg masih berpikir bahwa ngasih asi sama mudahnya seperti bikinin susu formula untuk bayi, itu SALAH besar!
sesuatu yang ideal dan wajib hukumnya itu blm tentu bisa terlaksana dengan baik selama lingkungan kita ga kooperatif. kenapa gw bilang ga kooperatif?? ( kok kayaknya maksain banget ya biar kooperatif). Kooperatif itu suatu keharusan saat suatu kewajiban dapat terlaksana dengan baik.
Terlebih ini tentang anak. Anggaplah mendidik dan menjaga anak itu seperti diri kita yang sedang berada di medan perang. Dan anggaplah anak kita itu adalah diri kita sendiri. dan anggap juga kalau lingkungan itu seperti team kita yang tidak kooperatif.
Buat para ibu2 yang baru akan memutuskan sebagai full time mom, diharuskan memiliki kesiapan yang benar2 siap ya! bukan sekedar diri kita yabg siap tapi yakinkan dan mintalah komitmen pada orang2 terdekat yabg harus juga siap.
July 2, 2013
Life is a song,sing it..
Bulan juni,bulan berkurangnya umur gw didunia..otomatis (seharusnya) semakin byk pengalaman hdp yg gw dapet.
Alhamdulillah bulan Juni ini menjadi bulan penuh berkah buat gw dan khususnya kehidupan gw bersama si abang.
Seharusnya, limpahan ucapan selamat dan rasa romantisme yg gw dapet saat ulang tahun dari sang suami.
Tapi justru sebaliknya, datar,tdk banyak rasa dan kata2 atau ucapan yg berarti yg gw dapet saat itu.
Gw selalu menghibur diri dg berbagai spekulasi positif tentang si abang. bukan karena saat itu momentnya emang tepat utk bermesraan atau dapet sejuta sayang, tapi karena hal2 itu yg gw idam2kan akhir2 ini.
Si abang seolah2 menutup mata,telinga, dan (mungkin) hati utk sekedar berniat memperbaiki hubungan kami.
ibarat buah mangga ranum yg terlihat manis diluar tapi trnyata busuk didalam.
tanpa bermaksud hiperbola, itulah keadaan hubungan kami sampai saat itu.
Miris memang..2th berumah tangga dan menyimpan berbagai unek2 yg harus ditelan.
kadang ego bener2 menguasai gw dan si abang saat satu2 masalah yg memancing uneg2 kami keluar.
Buntu dan selalu buntu akhirnya.sampai suatu hari dg mata kepalanya sendiri si abang melihat realita yg berbeda dari seorang gw.
cuma kata maaf yg terucap dari mulut gw saat itu. dan sedikit penjelasan (baca:pengakuan) yg dg besar hati gw akui.
gw melakukan itu semata2 karena memang sikap nyaman yg gw idamkan dan ga pernah gw dapet dari dia.
dan ada bbrp hal lainnya yg intinya, sdh tdk nyaman.
Tapi ternyata kejadian itu cukup membuat mata abang terbuka lebar bahwa ada bbrp hal kecil,tampak tdk berarti namun sangat2 berharga utk sebuah hubungan.
itu yang sama2 kami sadari setelah hampir 3th berumah tangga.
Selalu ada hikmah dibalik semuanya.
Selalu ada sebab dibalik akibat.
Selalu ada jalan dari segala persoalan.
itu yg kami yakini saat ini.insyaallah utk kedepannya.
Gw hanya cukup bersyukur dan berusaha menjaga hubungan ini terus agar menjadi lbh baik lagi dan lagi.
tanpa harus berusaha 'pasrah' (lagi) dg keadaan.
karena bagaimanapun keadaan kita, hidup akan terus berjalan kan?
Alhamdulillah bulan Juni ini menjadi bulan penuh berkah buat gw dan khususnya kehidupan gw bersama si abang.
Seharusnya, limpahan ucapan selamat dan rasa romantisme yg gw dapet saat ulang tahun dari sang suami.
Tapi justru sebaliknya, datar,tdk banyak rasa dan kata2 atau ucapan yg berarti yg gw dapet saat itu.
Gw selalu menghibur diri dg berbagai spekulasi positif tentang si abang. bukan karena saat itu momentnya emang tepat utk bermesraan atau dapet sejuta sayang, tapi karena hal2 itu yg gw idam2kan akhir2 ini.
Si abang seolah2 menutup mata,telinga, dan (mungkin) hati utk sekedar berniat memperbaiki hubungan kami.
ibarat buah mangga ranum yg terlihat manis diluar tapi trnyata busuk didalam.
tanpa bermaksud hiperbola, itulah keadaan hubungan kami sampai saat itu.
Miris memang..2th berumah tangga dan menyimpan berbagai unek2 yg harus ditelan.
kadang ego bener2 menguasai gw dan si abang saat satu2 masalah yg memancing uneg2 kami keluar.
Buntu dan selalu buntu akhirnya.sampai suatu hari dg mata kepalanya sendiri si abang melihat realita yg berbeda dari seorang gw.
cuma kata maaf yg terucap dari mulut gw saat itu. dan sedikit penjelasan (baca:pengakuan) yg dg besar hati gw akui.
gw melakukan itu semata2 karena memang sikap nyaman yg gw idamkan dan ga pernah gw dapet dari dia.
dan ada bbrp hal lainnya yg intinya, sdh tdk nyaman.
Tapi ternyata kejadian itu cukup membuat mata abang terbuka lebar bahwa ada bbrp hal kecil,tampak tdk berarti namun sangat2 berharga utk sebuah hubungan.
itu yang sama2 kami sadari setelah hampir 3th berumah tangga.
Selalu ada hikmah dibalik semuanya.
Selalu ada sebab dibalik akibat.
Selalu ada jalan dari segala persoalan.
itu yg kami yakini saat ini.insyaallah utk kedepannya.
Gw hanya cukup bersyukur dan berusaha menjaga hubungan ini terus agar menjadi lbh baik lagi dan lagi.
tanpa harus berusaha 'pasrah' (lagi) dg keadaan.
karena bagaimanapun keadaan kita, hidup akan terus berjalan kan?
Subscribe to:
Posts (Atom)